Langsung ke konten utama

Sebuah Refleksi: Organisasi Diri

Bergeraklah!
“engkau akan melihat betapa keruhnya air didalam kubangan itu jika tak mengalir, lihatlah betapa jernihnya air yang mengalir menuruni tempat yang lebih rendah” teringat sebait nasihat dari teman semasa SMA.

Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan diriku merantau di negeri sebarang. Tanpa seizin-Nya semua itu tak akan pernah terjadi, hal-hal yang ku sukai maupun tidak adalah sebuah tantangan bagi diriku agar Dia melihat betapa kuatnya diriku atau pantaskah diriku disebut sebagai hamba Nya yang Dia cintai.
Sebuah pembuktian yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Inilah yang dinamakan takdir, ia datang tak pernah disangka pergi pun tiada kata. semua berlalu begitu saja, bagi yang dapat mengambil hikmahnya beruntnglah ia, bagi yang lalai tak mengenalnya, merugilah ia. 
Takdir itupun terjadi padaku, tak pantas bagiku untuk menolak seraya mengatakan “aku belum siap” namun tujuanku adalah ingin menjadi yang lebih baik. Bukankah Dia takkan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba Nya? Aku teringat sebuah nasihat dari seorang ustad terkemuka dikampusku “jika engkau menghendaki sesuatu yang baik terjadi padamu, namun Allah mengetahui engkau belum siap menerimanya maka Dia takkan memberikan kebaikan itu kepadamu, sampai engkau lulus dalam cobaan yang diberikanya”.
Cobaan adalah hal yang wajar terjadi bagi kehidupan manusia. Bentuk lain dari kewajaran tersebut biasa kita sebut sebagai masalah. Terkadang masalah itu terjadi dan datang tanpa kita tahu kapan waktunya, hal yang mendadak seringkali membuat kita kewalahan, begitupun aku.
Hidupku merantau dikampus tak semudah dibayangkan ketika ku berada di SMA. Sungguh tak satupun yang terpikirkan hendak berbuat apa dahulu ketika dikampus, niat pertama datang ke negeri perantauan adalah menuntut ilmu dan berdakwah. Sebuah alasan klasik yang setiap orang dapat meniatkanya atau mengucapkanya.
Termenungku dalam setengah tahun berlalu, melihat koin yang bergerak maju mundur diatas meja datar. Aku tak mengerti dengan kehidupanku saat ini, berbagai masalah sebenarnya dapat kuatasi, aku yakin aku dapat mengalahkan semua orang yang menjadi sainganku, namun ku menyerah pada diri ini. Dahulu motto hidupku hanya satu “temanku hanyalah amalku dan musuhku adalah diriku”, motto ini lambat laun tereliminasi oleh diriku sendiri. Sebuah kejahatan yang tak dapat ku ungkap dan tak dapat kuselesaikan.
Koin itu terus kugerakkan maju dan mundur, seraya berfikir “mengapa koin ini hanya bisa maju dan mundur? Mengapa harus ada yang menggerakkan?”. Pertanyaan ini sangat melegakan ku ketika ku teringat sebuah nasihat kawan SMA ku, “ engkau akan melihat betapa keruhnya air didalam kubangan itu jika tak mengalir, lihatlah betapa jernihnya air yang mengalir menuruni tempat yang lebih rendah”.
Segala puji bagi Allah, akhirnya kini kumengerti mengapa koin itu hanya bergerak maju mundur dan tidak bisa bergerka jika tidak ada yang menggerakkan.
Jawabanya adalah karena meja itu datar, sama halnya dengan kehidupan dunia ini. Ketika kita merasa hendak putus asa dan lemah, kita seperti koin yang berada dimeja datar. Hanya bisa bergerak maju dan mundur, lain halnya dengan meja yang tinggi dibagian sebelahnya, maka koin itu akan turun kebawah.
Kondisi ini tak cocok untuk hidupku, karena koin ini mengalir mengikuti curamnya meja itu, dia tak butuh orang untuk menggeraknya. Yang aku butuhkan adalah koin yang bergerak keatas. Orang bilang sulit, bahkan mustahil untuk menggerakkan koin keatas meja. Tapi aku yakin, aku bisa menggerakkanya, karena akulah yang memiliki koin itu, akulah yang menggerakkanya bukan mereka.
Aku tersadarkan, koin itu adalah diriku. Ku tak boleh menyalahkan diriku yang lemah ini. Ku mempunyai tangan yang dengan itu ku bisa menggapai apapun. Ku mempunyai kaki yang dengan itu ku bisa melangkah sejauh apapun, ku mempunyai akal yang dengan itu ku bisa menguasai dunia ini, dan ku punya hati tempat dimana aku menahkodai seluruh nikmat yang luar biasa yang Allah berikan ini. Dan ku menyebut semua ini sebagai ORGANISASI DIRI.

semangat 18!

Komentar

Anonim mengatakan…
Sip khomsun! :)
Unknown mengatakan…
maaf, siapa ya? salam kenal, :)

Postingan populer dari blog ini

berlebihankah?

semangat 18! Ya Allah sepertinya Engkau terlalu berlebihan dalam memberikan nikmat ini. Banyak sekali nikmat yang ku mubadzirkan hari ini. Tak ada uang atau apapun yang dapat kubalas untuk nikmat hari ini. Bahkan ibadah hari inpun aku tak tahu Engkau terima atau tidak. Beruntunglah orang-orang yang Engkau muliakan dengan sebuah kecacatan. Mereka yang tak punya kedua belah mata pastikan selamat dari kemaksiatan melihat. Mereka yang berjuang dijalanmu yang tak punya tangan dan kaki pasti kau kan berikan sebuah kemuliaan di akhirat. Hari ini kutersadaarkan oleh sebuah harapan dan kepercayaan makhluk Mu. Terutama dipagi ini (12/3), sebuah panggilan bernada "hanya satu pinta ku untukmu dan hidupmu, baik baik sayang karena aku untukmu, semua keinginan akan aku lakukan sekuat semampu ku sayang, karena bagiku kau kehormatanku, denganrkan dengarkan aku" sebuah nada yang sengaja aku khususkan untuk kedua orangtua ku. Entah mengapa dahulu ku niatkan nada ini menjadi nada dering...

Telisik Media Hiburan

Kembali dunia pertelivisian Indonesia menayangkan sebuah pameran “joget” yang tak hanya membuat orang tua ikut bergoyang namun juga telah menyihir anak anak yang belum berusia baligh. Terpaku pada sebuah perkataan sahabat “jika engkau ingin melihat pemimpinmu dimasa depan, maka lihatlah dirimu yang sekarang” ternyata memang sangat miris sekali. Sudah berapa kalikah Indonesia kehilangan integritas pemimpin? Ditambah lagi dengan adanya figuran yang hanya memikirkan sebuah kesenangan belaka? Mungkin niat mereka baik, mereka membuat Indonesia agar tetap senyum dan senang ditengah krisis yang melanda Indonesia, baik itu dibidang politik, social, ekonomi, budaya maupun agama. Namun apakah obyek mereka itu tidak perlu dikoreksi lagi? Saya ingat sekali pesan orang tua di kampung saya “anak anak yang terlahir hari ini adalah calon pemimpin dimasa depan”, dan saya ingat sekali ketika saya berdiskusi dengan salah seorang Ayah yang sangat getol dalam mendidik anaknya untuk terus belaj...

Dik, jangan iri!

Aku tak mendapatkan jawaban lain ketika aku bertanya kepada orang-orang yang besar kecuali “ayo semangat dik, kamu pasti bisa”. Apalah arti kalimat ini, tak lebih dari 6 kata yang slalu mereka ulang ketika kutanyakan. Ini tak menjawab sama sekali pertanyaanku terhadap mereka “bagaimana caranya bisa mendapatkan semua ini?”. Padahal yang kubutuhkan adalah adanya tips seperti bangun pagi lalu belajar dan seterusnya mungkin, atau mereka private kepada orang yang lebih handal dan mereka percaya untuk bisa mendapatkan semua ini. Dengan begitu ada sedikit kelegaan didalam hati atas pertanyaan yang sering membuatku iri atas prestasi mereka. bagai langit dan bumi, setidaknya ini yang tengah kurasakan.  Aku heran dengan mereka, padahal kita sama diciptakan dari Tuhan yang Satu kemudian berkembang diplanet yang sama dengan segala macam kebutuhan pokok yang sama tetapi mengapa masalah prestasi mereka yang lebih unggul? Mengapa harus ada perbedaan jika kesamaan itu terasa adil? Nam...