Langsung ke konten utama

Telisik Media Hiburan

Kembali dunia pertelivisian Indonesia menayangkan sebuah pameran “joget” yang tak hanya membuat orang tua ikut bergoyang namun juga telah menyihir anak anak yang belum berusia baligh.

Terpaku pada sebuah perkataan sahabat “jika engkau ingin melihat pemimpinmu dimasa depan, maka lihatlah dirimu yang sekarang” ternyata memang sangat miris sekali. Sudah berapa kalikah Indonesia kehilangan integritas pemimpin? Ditambah lagi dengan adanya figuran yang hanya memikirkan sebuah kesenangan belaka?

Mungkin niat mereka baik, mereka membuat Indonesia agar tetap senyum dan senang ditengah krisis yang melanda Indonesia, baik itu dibidang politik, social, ekonomi, budaya maupun agama. Namun apakah obyek mereka itu tidak perlu dikoreksi lagi?

Saya ingat sekali pesan orang tua di kampung saya “anak anak yang terlahir hari ini adalah calon pemimpin dimasa depan”, dan saya ingat sekali ketika saya berdiskusi dengan salah seorang Ayah yang sangat getol dalam mendidik anaknya untuk terus belajar, ketika itu beliau bilang begini “anak anak zaman sekarang memang sangat sulit untuk diajarkan sebuah perjuangan, mereka inginya serba instan, hal ini akan membuat mereka selalu tergantung pada sebuah keadaan, tapi sebenarnya faktor yang menyebabkan mereka seperti ini bukan hanya sifat manja dan kesadaran yang kurang, tetapi juga faktor orang tua yang terlalu baik terhadap anak”

Ketika itu memang saya sempat bingung apa maksud dari kebaikan orang tua merupakan salah satu faktor yang menyebabkan si anak jadi serba instan?

Tetapi setelah sekian lamanya merenung kembali, saya dapatkan sebuah jawaban yang sangat membuat saya terkejut, memang sifat orang tua itu sangat teramat sayang terhadap anaknya, ketika apa yang mereka dahulu rasakan tentang sebuah perjuangan yang pahit pasti mereka akan mencoba semaksimal mungkin agar anaknya tidak merasakan pahitnya perjuangan itu, ya memang begitulah sifat orang tua tak pernah mau melihat anaknya bersusah payah, namun tak menutup kemungkinan ada beberapa orang tua yang masih memperhatikan dengan benar bagaimana seorang anak itu dapat tumbuh dan berkembang dengan ideal sesuai dengan umur dan pengalaman yang anak rasakan.

Ibaratnya jika seekor ulat yang ingin keluar dari kepompong, maka ia harus mencari jalan keluar dan harus usaha sendiri jangan sampai perjuangan untuk keluar itu dibantu oleh manusia atau dengan kata lain ia telah keluar sebelum saatnya karena dibantu oleh manusia, bisa bisa ketika ia lahir akan mengalami kecacatan. 

Mungkin niat manusia itu baik ingin membantu sang ulat keluar dari kepompong, tapi apa yang terjadi ketika ulat itu berubah menjadi kupu kupu bisa jadi ia cacat.

Kebaikan orang tua ini mampu membuat kita cacat pengalaman, mereka menyelimuti kita dengan jubah kebaikan namun karena jubah itu kita jadi sulit untuk bergerak. Namun saya tidak akan berbicara jauh mengenai masalah ini, focus saya tertuju pada “joget” itu tadi.

Kembali pada fenomena “joget”, ga terbayang jika seandainya mengatasi masalah harus dengan berjoget atau dengan kata lucunya mereka berjoget semntara para pemerintah kita pusing memikirkan bencana yang terus melanda negeri ini “menari diatas penderitaan pemerintah”. Sudah menjadi suatu adat bila ada suatu masalah melanda sebuah negeri, rakyat akan berkata “bagaimana ini pemerintah”, disatu sisi mereka terus menuntut dilain sisi mereka tak obahnya hanya menari diatas penderitaan pemerintah.

Memang tidak ada yang harus disalahkan jika memang begini tuntutanya, pemerintah memang benar, rakyat memang benar dan yang salah adalah bencana! Masalah selesai sudah.

Alangkah lalainya kita, kita lupa bahwa media itu seharusnya merupakan sarana yang mendidik baik orang tua maupun yang muda, kita terlalu sibuk memikirkan proyek kita sampai-sampai kita terlupa apa warna negeri ini. Indonesia berbeda warna dengan Negara Negara lain diluar sana, tak akan ada artinya pendidikan disekolah bertahun tahun jika dibarengi dengan kegiatan yang melupakan moral , seolah olah itu hanya gali lubang dan tutup lubang saja!.

Ayolah kawan kawanku, mari kita sadar diri untuk apa pendidikan ada jika maksiatpun terus merejalela, perjuangan itu bukan berarti kita menegakkan keadilan namun membiarkan kebatilan, justru keadilan tidak akan pernah bisa berjalan beriringan dengan kebatilan, harus ada salah satu yang tereleminasi. Mulai dari sekarang mari kita tinggalkan hal hal yang membuat diri ini lupa dan lalai akan pendidikan dan akhirat sebab jika pendidikan telah hilang maka kebodohan akan mengisi luasnya bumi ini dan orang orang bodohpun yang akan menjadi pemimpin negeri ini, apalagi jika kita telah benar benar meninggalkan kehidupan akhirat maka kita akan benar benar merugi di dunia maupun di akhirat!

semangat 18!

Komentar