Langsung ke konten utama

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20.

Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerintah berikan. 

Universitas adalah sebuah lembaga yang bergerak dibidang kependidikan. Tujuan lembaga ini salah saatunya adalah ikut membantu Negara dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa. Tentu disamping tujuan utama itu setiap Universitas masing-masing memiliki tujuan "tajam" yang berbeda dari lembaga kependidikan lainya. Ada beberapa program yang dimiliki setiap Universitas di Indonesia yang berwarna serupa, yakni salah satunya adalah MAPRES.

MAPRES merupakan akronim dari Mahasiswa Berprestasi. Program ini sangat popular dikalangan mahasiswa pada umumnya. Program ini bertujuan untuk menyeleksi Mahasisiwa berbakat dan berkemauan serta berkemampuan khusus untuk diberi sebuah penghargaan melalui beberapa kriteria yang distandarkan. Beberapa kriteria tersebut dapat dilihat dari prestasi akademik maupun non-akademik, dari sisi sosial, profesionalisme dan lain sebagainya.

Jika dilihat, seorang MAPRES bisa disebut sebagai "idola" nya para Mahasiswa, selain berbakat dan prestatif, biasanya mereka juga Inspiratif dan Agamis. Mereka mampu memadukan keseimbangan Antara ruhiyah, fikriah serta jasadiyah. Inilah kunci utama kesuksesan seseorang, tawazun. MAPRES pada umumnya mampu “menyihir” rekan-rekanya baik yang pernah dikenal maupun yang belum pernah kenal untuk mensugesti bahkan mengimitasikan orang lain pada dirinya. Kemampuan ini tidak semata-mata karena bakat bawaan yang mereka asah namun juga adanya keberanian dan kemauan yang kuat dari seorang MAPRES itu sendiri.

Sungguh beruntung orang yang bisa kuliah disebuah perguruan tinggi, apalagi menjadi seorang MAPRES. Jika didesa itu melanjutkan pendidikan sampai kejenjang SMK saja sudah sangat bangga dan sudah bisa bermanfaat. Banyak mahasiswa yang ingin mendapatkan kesempatan seperti in, tetapi tidak semua terjaring, hanya orang-orang yang berkantong tebal dan benar-benar memiliki jaringan keluar yang bisa memanfaatkan kesempatan ini.

MAPRES, kau kan seorang teladan, mengapa tidak kau sisihkan waktumu untuk menularkan ilmumu sedikit saja pada kami? Kau sudah sangat bersusah payah dalam mendapatkan sebuah penghargaan berupa MAPRES, tapi mengapa engkau begitu cepat meninggalkan kami? Namamu saja baru terkenang 1 hari yang lalu, dan esok kau telah pergi meninggalkan kami. Oh tuhan, mengapa orang-orang yang baik dan bermanfaat selalu Engkau cabut dari pandangan kami? Bukankah mereka juga dari kami?

Oh MAPRES, mengapa lulusmu begitu cepat? sabarlah, belum sempat adikmu ini menimba ilmu darimu, janganlah engkau cepat pergi meninggalkan kenangan pada kami. Tak bisakah engkau berprestasi namun kau juga membimbing kami juga turut berprestasi, tapi tidak begitu cepat meninggal?




semangat 18!



semangat 18!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

berlebihankah?

semangat 18! Ya Allah sepertinya Engkau terlalu berlebihan dalam memberikan nikmat ini. Banyak sekali nikmat yang ku mubadzirkan hari ini. Tak ada uang atau apapun yang dapat kubalas untuk nikmat hari ini. Bahkan ibadah hari inpun aku tak tahu Engkau terima atau tidak. Beruntunglah orang-orang yang Engkau muliakan dengan sebuah kecacatan. Mereka yang tak punya kedua belah mata pastikan selamat dari kemaksiatan melihat. Mereka yang berjuang dijalanmu yang tak punya tangan dan kaki pasti kau kan berikan sebuah kemuliaan di akhirat. Hari ini kutersadaarkan oleh sebuah harapan dan kepercayaan makhluk Mu. Terutama dipagi ini (12/3), sebuah panggilan bernada "hanya satu pinta ku untukmu dan hidupmu, baik baik sayang karena aku untukmu, semua keinginan akan aku lakukan sekuat semampu ku sayang, karena bagiku kau kehormatanku, denganrkan dengarkan aku" sebuah nada yang sengaja aku khususkan untuk kedua orangtua ku. Entah mengapa dahulu ku niatkan nada ini menjadi nada dering...

Telisik Media Hiburan

Kembali dunia pertelivisian Indonesia menayangkan sebuah pameran “joget” yang tak hanya membuat orang tua ikut bergoyang namun juga telah menyihir anak anak yang belum berusia baligh. Terpaku pada sebuah perkataan sahabat “jika engkau ingin melihat pemimpinmu dimasa depan, maka lihatlah dirimu yang sekarang” ternyata memang sangat miris sekali. Sudah berapa kalikah Indonesia kehilangan integritas pemimpin? Ditambah lagi dengan adanya figuran yang hanya memikirkan sebuah kesenangan belaka? Mungkin niat mereka baik, mereka membuat Indonesia agar tetap senyum dan senang ditengah krisis yang melanda Indonesia, baik itu dibidang politik, social, ekonomi, budaya maupun agama. Namun apakah obyek mereka itu tidak perlu dikoreksi lagi? Saya ingat sekali pesan orang tua di kampung saya “anak anak yang terlahir hari ini adalah calon pemimpin dimasa depan”, dan saya ingat sekali ketika saya berdiskusi dengan salah seorang Ayah yang sangat getol dalam mendidik anaknya untuk terus belaj...

Dik, jangan iri!

Aku tak mendapatkan jawaban lain ketika aku bertanya kepada orang-orang yang besar kecuali “ayo semangat dik, kamu pasti bisa”. Apalah arti kalimat ini, tak lebih dari 6 kata yang slalu mereka ulang ketika kutanyakan. Ini tak menjawab sama sekali pertanyaanku terhadap mereka “bagaimana caranya bisa mendapatkan semua ini?”. Padahal yang kubutuhkan adalah adanya tips seperti bangun pagi lalu belajar dan seterusnya mungkin, atau mereka private kepada orang yang lebih handal dan mereka percaya untuk bisa mendapatkan semua ini. Dengan begitu ada sedikit kelegaan didalam hati atas pertanyaan yang sering membuatku iri atas prestasi mereka. bagai langit dan bumi, setidaknya ini yang tengah kurasakan.  Aku heran dengan mereka, padahal kita sama diciptakan dari Tuhan yang Satu kemudian berkembang diplanet yang sama dengan segala macam kebutuhan pokok yang sama tetapi mengapa masalah prestasi mereka yang lebih unggul? Mengapa harus ada perbedaan jika kesamaan itu terasa adil? Nam...