“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S Al-Mulk: 2) Ujian adalah bahasa Allah dalam menguraikan kasih sayang-Nya. Kadangkala ia berupa kebahagiaan, disisi lain manampakkan kesedihan. Kadang ia adalah kegagalan dilain waktu ia berwujud keberhasilan. Tidak ada sesuatu pun yang pasti dalam kehidupan ini, kecuali kematian. Dan kematian merupakan tanda bagi tercukupinya semua kasih sayang yang Dia berikan ketika hidup. Maka, bagaimanakah kita menafsirkan dan memanfaatkan kasih sayang-Nya itulah yang menjadi bekal pulang menuju kampung halaman (akhirat). Ketika Lalai Maka Ikatlah Pernah? Berbahagia bersama orang-orang yang tersayang? Disaat itu semua rasa syukur kepada Allah meningkat, dengan mudahnya kita berucap syukur atas nikmat yang Allah berikan. Seolah hidup akan terus berulang seperti hari itu, dan pasti semua orang menginginkan semua hari menjadi hari-hari...
"Ketidakpedulian bukan berarti melupakan, Ia ingat, hanya saja ia mengabaikan. Sayangnya, aku hidup dizaman yang ketika sesuatu rusak, ada yang membuangnya, bukan memperbaikinya". Perih. Itulah yang tengah ku rasakan. Melihat saudara ku berjuang, dicaci orang. Ukhuwah itu, tak lagi menghangatkan Terasa sempit, gelap dan buram. Dalam dekapan ukhuwah, ustad Salim A Fillah mengajarkan, kita mengambil cinta di langit lalu menebarkanya di bumi. Begitu indah ungkapan itu, namun sayang beliau tak sependapat dengan ku, bahwa ukhuwah itu harus dilatih dan diikat. Menurutnya, ukhuwah tidak datang dengan sendirinya. Tapi menurut ku, ketika kita mencintai seseorang karena Allah, dan berkumpul berjuang bersama di jalan Allah, maka Allah akan mengikat hati kita dengan keimanan. Hingga bila terjadi sesuatu diantara mereka, yang menyebabkan mereka berpisah maka itu semua adalah karena salah satu diantaranya sedang bermaksiat kepada Allah. Maaf, aku sedang memperbaiki diri...