Langsung ke konten utama

Postingan

Agar Hati Meleleh Karena Cinta Kepada-Nya

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S Al-Mulk: 2) Ujian adalah bahasa Allah dalam menguraikan kasih sayang-Nya. Kadangkala ia berupa kebahagiaan, disisi lain manampakkan kesedihan. Kadang ia adalah kegagalan dilain waktu ia berwujud keberhasilan. Tidak ada sesuatu pun yang pasti dalam kehidupan ini, kecuali kematian. Dan kematian merupakan tanda bagi tercukupinya semua kasih sayang yang Dia berikan ketika hidup. Maka, bagaimanakah kita menafsirkan dan memanfaatkan kasih sayang-Nya itulah yang menjadi bekal pulang menuju kampung halaman (akhirat). Ketika Lalai Maka Ikatlah Pernah? Berbahagia bersama orang-orang yang tersayang? Disaat itu semua rasa syukur kepada Allah meningkat, dengan mudahnya kita berucap syukur atas nikmat yang Allah berikan. Seolah hidup akan terus berulang seperti hari itu, dan pasti semua orang menginginkan semua hari menjadi hari-hari...
Postingan terbaru
 "Ketidakpedulian bukan berarti melupakan, Ia ingat, hanya saja ia mengabaikan. Sayangnya, aku hidup dizaman yang ketika sesuatu rusak, ada yang membuangnya, bukan memperbaikinya". Perih. Itulah yang tengah ku rasakan. Melihat saudara ku berjuang, dicaci orang. Ukhuwah itu, tak lagi menghangatkan Terasa sempit, gelap dan buram. Dalam dekapan ukhuwah, ustad Salim A Fillah mengajarkan, kita mengambil cinta di langit lalu menebarkanya di bumi. Begitu indah ungkapan itu, namun sayang beliau tak sependapat dengan ku, bahwa ukhuwah itu harus dilatih dan diikat. Menurutnya, ukhuwah tidak datang dengan sendirinya. Tapi menurut ku, ketika kita mencintai seseorang karena Allah, dan berkumpul berjuang bersama di jalan Allah, maka Allah akan mengikat hati kita dengan keimanan. Hingga bila terjadi sesuatu diantara mereka, yang menyebabkan mereka berpisah maka itu semua adalah karena salah satu diantaranya sedang bermaksiat kepada Allah. Maaf, aku sedang memperbaiki diri...

Agar Kebangkitan Bangsa Tidak Hanya Sebuah Jargon

 “Jadilah kamu sebagai sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor pada waktu malam dan pembaharu hati yg diketahui penduduk langit, namun tidak dikenal penduduk bumi.” (Ibn Mas’ud R.A.) Berbicara masalah Bangsa, artinya berbicara masalah diri. Karena bangsa hakikatnya adalah kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan sejarah dan cita-cita yang sama. Begitulah yang diungkapkan oleh Ernest Renan. Kita dapat melihat pemimpin kita dimasa depan dengan melihat kondisi diri kita saat ini. Jika kondisi kita baik, maka semuanya akan baik dan masa depan bangsa ini akan menjadi jauh lebih baik, begitupula sebaliknya. Faktor diri menjadi penentu bagaimana kualitas bangsa tercipta. Hilangnya Akar Penyokong Kehidupan Tanpa akar, tumbuhan berbatang tidak akan berdiri tegap. Dedaunan rindang tidak akan pernah ada sekalipun untuk berteduh, menyejukkan diri ditengah teriknya matahari. Bunga yang mekar indah sebagai tanda sempurnanya tanaman dalam berproses tak akan pernah terwu...

WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI PEDOMAN DALAM MENGHADAPI MEA

Indonesia sebagai bagian dari negara yang berada dikawasan Asia tenggara tentunya telah menyepakati adanya perjanjian pasar bebas antar anggota ASEAN yang terbentuk dalam organisasi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Beberapa hal yang menguntungkan dipihak indonesia adalah karena indonesia memilki SDA (sumber daya alam) yang lebih unggul dari negara lain, seperti keunggulan gas sebanyak 169,5 TCF dan Coal sebanyak 38,000 Kton dibanding negara ASEAN lain. Sebagai negara kepulauan yang menempati urutan ke-2 terbesar di dunia, konsekuensi yang harus diterima negara kepulauan Indonesia adalah sulitnya mengintegrasikan masing-masing daerah, terutama daerah yang sering disebut dengan daerah terluar, terdepan dan terpinggir. Beberapa kasus yang tengah hangat diperbincangkan akhir-akhir ini, seperti kasus pendirian mercusuar oleh negara Malaysia di tanjung datu, pencurian ikan oleh negara tetangga, pengambilan pasir laut di Kepulauan Riau serta pulau natuna yang tengah diperbincangkan t...

Seseorang Yang Seperti Bulan

Engkau adalah BULAN Malamku cerah ketika engkau datang Terimakasihku kepada Tuhan yang telah mempertemukan Bulan, sinarmu mengelilingi system tata surya Kau selalu membuatku iri Asteroid mana yang tak jatuh hati padamu Aku hanyalah seorang manusia yang tak pernah berhenti berharap Memiliki sang bulan yang begitu gemerlap Aku tak peduli pada asteroid yang selalu mengelilingimu Karena ku yakin cahyamu selalu tertuju padaku Kau terlalu kecil dimataku karena jarak Tetapi terlalu besar cintaku untuk berharap Walau hanya sebatas menjadi seperti lukisan Bulan, kau memberiku harapan ditengah kegelapan semangat 18!

Esai Pertama : Pemuda Itu Harus Langitan

PEMUDA LANGITAN *) oleh Khomsun Subarkah “ Ayah, apakah kita bisa selalu berbuat kebaikan dan tidak berbuat jahat, selama satu tahun? ” tanya si anak. Sang Ayah kemudian berpikir dan merenung, kemudian berkata, “ Sepertinya tidak mungkin, nak! ”. Kemudian si anak bertanya, “ kalau tidak bisa satu tahun, bisakah kita berbuat kebaikan selama 1 bulan saja dan tidak berbuat kejahatan ”, sang ayah menjawab, “ Tidak mungkin juga, nak ”, Si anak masih belum puas dengan jawaban sang ayah, dia bertanya lagi, “ Kalau 1 hari bisa tidak, yah ”, sang ayah berkata, “ Masih agak sulit, tidak bisa ”, si anak masih penasaran, kalau 1 hari pun tidak bisa, akhirnya dia bertanya, “ Kalau 1 menit, apakah kita bisa selalu berbuat kebaikan dan tidak berbuat jahat ?”. Sang ayah merenung dan menjawab, “ itu bisa, karena hanya 1 menit ”. Si anak pun tersenyum dan melakukan berbagai hal sederhana secara berulang-ulang setiap menit. Kisah selamanya akan menjadi kisah apabila kita tidak dapat mengam...

Salam Generasi Emas

DARI GENERASI EMAS UNTUK GENERASI EMAS *) Oleh: Khomsun Subarkah Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.”  Mereka malah menjawab, “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath Thobari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “ Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati .” (Tarikh Baghdad 2: 163). Inikah Negeri Ku? Kurikulum 2013 telah resmi dilaksanakan, namun masih...