Langsung ke konten utama

 "Ketidakpedulian bukan berarti melupakan,
Ia ingat, hanya saja ia mengabaikan.

Sayangnya, aku hidup dizaman yang ketika sesuatu rusak, ada yang membuangnya, bukan memperbaikinya".




Perih. Itulah yang tengah ku rasakan.
Melihat saudara ku berjuang, dicaci orang.
Ukhuwah itu, tak lagi menghangatkan
Terasa sempit, gelap dan buram.

Dalam dekapan ukhuwah, ustad Salim A Fillah mengajarkan, kita mengambil cinta di langit lalu menebarkanya di bumi. Begitu indah ungkapan itu, namun sayang beliau tak sependapat dengan ku, bahwa ukhuwah itu harus dilatih dan diikat. Menurutnya, ukhuwah tidak datang dengan sendirinya. Tapi menurut ku, ketika kita mencintai seseorang karena Allah, dan berkumpul berjuang bersama di jalan Allah, maka Allah akan mengikat hati kita dengan keimanan. Hingga bila terjadi sesuatu diantara mereka, yang menyebabkan mereka berpisah maka itu semua adalah karena salah satu diantaranya sedang bermaksiat kepada Allah.

Maaf, aku sedang memperbaiki diri. Terlalu silau dunia itu dimata ku. Sampai-sampai aku terlupa, bahwa kita sedang terikat oleh janji-Nya. Sudah ada niatan terbesit dalam hatiku, bahwa kini saatnya untuk menurunkan semua amanah itu, namun kembali ku berpikir, apakah tega aku meletakkan beban ini di pundak saudara ku? semoga Allah, memperbaiki ku dan tidak membuang ku. Itu saja

semangat 19!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

berlebihankah?

semangat 18! Ya Allah sepertinya Engkau terlalu berlebihan dalam memberikan nikmat ini. Banyak sekali nikmat yang ku mubadzirkan hari ini. Tak ada uang atau apapun yang dapat kubalas untuk nikmat hari ini. Bahkan ibadah hari inpun aku tak tahu Engkau terima atau tidak. Beruntunglah orang-orang yang Engkau muliakan dengan sebuah kecacatan. Mereka yang tak punya kedua belah mata pastikan selamat dari kemaksiatan melihat. Mereka yang berjuang dijalanmu yang tak punya tangan dan kaki pasti kau kan berikan sebuah kemuliaan di akhirat. Hari ini kutersadaarkan oleh sebuah harapan dan kepercayaan makhluk Mu. Terutama dipagi ini (12/3), sebuah panggilan bernada "hanya satu pinta ku untukmu dan hidupmu, baik baik sayang karena aku untukmu, semua keinginan akan aku lakukan sekuat semampu ku sayang, karena bagiku kau kehormatanku, denganrkan dengarkan aku" sebuah nada yang sengaja aku khususkan untuk kedua orangtua ku. Entah mengapa dahulu ku niatkan nada ini menjadi nada dering...

Telisik Media Hiburan

Kembali dunia pertelivisian Indonesia menayangkan sebuah pameran “joget” yang tak hanya membuat orang tua ikut bergoyang namun juga telah menyihir anak anak yang belum berusia baligh. Terpaku pada sebuah perkataan sahabat “jika engkau ingin melihat pemimpinmu dimasa depan, maka lihatlah dirimu yang sekarang” ternyata memang sangat miris sekali. Sudah berapa kalikah Indonesia kehilangan integritas pemimpin? Ditambah lagi dengan adanya figuran yang hanya memikirkan sebuah kesenangan belaka? Mungkin niat mereka baik, mereka membuat Indonesia agar tetap senyum dan senang ditengah krisis yang melanda Indonesia, baik itu dibidang politik, social, ekonomi, budaya maupun agama. Namun apakah obyek mereka itu tidak perlu dikoreksi lagi? Saya ingat sekali pesan orang tua di kampung saya “anak anak yang terlahir hari ini adalah calon pemimpin dimasa depan”, dan saya ingat sekali ketika saya berdiskusi dengan salah seorang Ayah yang sangat getol dalam mendidik anaknya untuk terus belaj...

Dik, jangan iri!

Aku tak mendapatkan jawaban lain ketika aku bertanya kepada orang-orang yang besar kecuali “ayo semangat dik, kamu pasti bisa”. Apalah arti kalimat ini, tak lebih dari 6 kata yang slalu mereka ulang ketika kutanyakan. Ini tak menjawab sama sekali pertanyaanku terhadap mereka “bagaimana caranya bisa mendapatkan semua ini?”. Padahal yang kubutuhkan adalah adanya tips seperti bangun pagi lalu belajar dan seterusnya mungkin, atau mereka private kepada orang yang lebih handal dan mereka percaya untuk bisa mendapatkan semua ini. Dengan begitu ada sedikit kelegaan didalam hati atas pertanyaan yang sering membuatku iri atas prestasi mereka. bagai langit dan bumi, setidaknya ini yang tengah kurasakan.  Aku heran dengan mereka, padahal kita sama diciptakan dari Tuhan yang Satu kemudian berkembang diplanet yang sama dengan segala macam kebutuhan pokok yang sama tetapi mengapa masalah prestasi mereka yang lebih unggul? Mengapa harus ada perbedaan jika kesamaan itu terasa adil? Nam...