“Jadilah kamu sebagai sumber ilmu, pelita
petunjuk, penerang rumah, obor pada waktu malam dan pembaharu hati yg diketahui
penduduk langit, namun tidak dikenal penduduk bumi.”
(Ibn
Mas’ud R.A.)
Berbicara
masalah Bangsa, artinya berbicara masalah diri. Karena bangsa hakikatnya adalah
kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan sejarah dan cita-cita yang sama.
Begitulah yang diungkapkan oleh Ernest Renan. Kita dapat melihat pemimpin kita
dimasa depan dengan melihat kondisi diri kita saat ini. Jika kondisi kita baik,
maka semuanya akan baik dan masa depan bangsa ini akan menjadi jauh lebih baik,
begitupula sebaliknya. Faktor diri menjadi penentu bagaimana kualitas bangsa
tercipta.
Hilangnya Akar Penyokong Kehidupan
Tanpa akar, tumbuhan
berbatang tidak akan berdiri tegap. Dedaunan rindang tidak akan pernah ada
sekalipun untuk berteduh, menyejukkan diri ditengah teriknya matahari. Bunga
yang mekar indah sebagai tanda sempurnanya tanaman dalam berproses tak akan
pernah terwujud. Ibarat bangunan, tanpa asas atau pondasi yang kuat
dinding-dinding penyangga atap tidak akan berdiri kokoh. Rumah hanya sebagai
pajangan semata, walau arsitekturnya dirancang untuk masa depan. Begitu pun dengan
Bangsa ini, ikhlas merupakan akar dalam niat juga merupakan asas dalam bertindak.
Bangsa yang
pernah berjaya diwilayah maritim se-Asia ini tengah kehilangan asas
kehidupanya. Pekerjaan dijadikan alat sebagai pemuas kebutuhan pribadi.
Persamaan hak asasi dalam kehidupan telah tergeser oleh nilai-nilai liberalis
dan kapitalis. Akibatnya orang yang lemah hanya dijadikan sebagai budak-budak
kepentingan penguasa. Anehnya di negeri ini, ketika para penguasa berusaha
menyorakkan pembangunan nasional, disisi lain mereka merobohkan pembangunan moral.
Ketika mereka mengagung-agungkan persatuan Indonesia tanpa sekat, ras, agama,
dan suku, disisi lain mereka mengatasnamakan kepemimpinan negara sebagai tugas
bagi kader terbaik partai. Sadar atau tidak, itulah yang tengah terjadi pada
bangsa ini.
Alih-alih
profesi ikut mengaburkan tujuan dan tugas utama yang seharusnya dilaksanakan.
Ambillah dokter sebagai profesi mulia yang kini tengah memprihatinkan akibat
digeser nilai-nilai keluhuranya dengan praktek praktis. Profesi ini menjadi trend umumnya dikalangan calon mahasiswa
baru disetiap penjuru negeri. Iming-iming pendapatan yang besar dengan sekali
periksa, prestise ditengah masyarakat
karena pamornya masih terbilang tinggi dan karena biaya masuknya saja berpuluh
hingga ratusan juta menyebabkan banyak sekali orangtua maupun anak yang
menargetkan profesi ini. Akibatnya, dokter bukan lagi sebagai profesi panggilan
jiwa yang didasari ingin menolong orang lain, namun ingin mendapatkan sesuatu
dari apa yang telah mereka usahakan.
Tidak hanya
sebatas masalah kesehatan, bidang pendidikan yang merupakan upaya pengentasan
kebodohan agar menjadi masyarakat yang madani pun tak luput dari virus-virus
yang menyebabkan hilangnya keikhlasan dalam diri setiap orang. Tujuan awal
menuntut ilmu agar terhindarnya kebodohan semata-mata telah digeser oleh system
yang praktis dan materialistik. Akibatnya tidak sedikit murid yang lebih
mengutamakan praktek mencontek agar
mendapat nilai yang bagus dan lulus dengan hasil yang diperoleh bukan dari kerja
keras sendiri. Kebanggaan atas hasil usaha sendiri telah luntur, sekolah akan
malu jika hasil lulusannya hanya sedikit dan tidak berkualitas, akhirnya
kerjasama antar guru dan kepala sekolah pun dimulai.
Miris sekali,
penyakit-penyakit yang sedang mewabah di tengah masyarakat ini sudah
sepantasnya dibabat sampai ke
akarnya. Virus-virus itu, yakni ingin dilihat oleh orang lain bahwa dirinya
mampu, ingin didengar orang lain bahwa dirinya hebat, ingin diperhatikan oleh
orang lain karena dirinya adalah orang terpandang, seolah telah cukup untuk
menyematkan bahwa negeri ini dalam keadaan gawat darurat. Pada dasarnya
orang-orang yang memiliki penyakit seperti ini adalah orang yang merintih dan
memelas untuk meminta di akui keberadaanya ditengah masyarakat, dan Indonesia
bukanlah negara yang mengemis kemerdekaan, namun ini semua adalah berkat
karunia Tuhan Yang Maha Esa atas perjuangan mati-matian pahlawan yang gugur
dimedan perang.
Kebangkitan Bangsa Bukanlah Sebuah Jargon
Agar kebangkitan
Bangsa tidak sebatas orasi janji-janji saat kampanye berlangsung, perlu adanya
perbaikan yang dimulai dari hal terkecil hingga membentuk satu-kesatuan yang
utuh. Ikhlas merupakan upaya perbaikan diri, mengembalikan niat dan tujuan
hidup sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Memperbaiki diri artinya
memperbaiki masyarakat, memperbaiki masyarakat berarti memperbaiki Bangsa, memperbaiki
Bangsa berarti memperbaiki system, dan memperbaiki system berarti mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ikhlas, memiliki
dua artian utama. Yakni memberi tanpa pamrih dan melakukan sesuatu hanya karena
Tuhan. Memberi tanpa pamrih layaknya ketika tangan kanan bersedekah, tangan
kiri tidak mengetahuinya. Artinya, segala yang kita lakukan untuk orang lain
adalah murni dari hati ingin membantu sesama. Tanpa ada niatan dalam hati agar
orang yang kita beri membalas apa yang telah kita beri, meskipun ucapan rasa
terimakasih.
Makna kedua
yakni melakukan sesuatu hanya karena Tuhan, pengertianya berbeda dengan
pemberian tanpa pamrih. Di pengertian inilah sudah sepantasnya kita memohon
kepada Tuhan, agar Dia menerima amal kita dan memberikan kepada kita balasan
berupa pahala, bahkan sangat dianjurkan untuk meminta surga-Nya. Karena Tuhan
berbeda dengan manusia, ketika Dia tidak dimintai sesuatu oleh hamba-Nya, Dia
akan marah. Sedangkan manusia, ketika ia dimintai sesuatu oleh sesamanya,
terkadang ia marah.
Sebagai bangsa
yang mengutamakan nilai-nilai pancasila dalam berperikehidupan, selayaknya sila
ketuhanan Yang Maha Esa hingga sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia menjadi hal yang diamalkan secara ikhlas. Setidaknya ada beberapa hal
yang dapat membuktikan keikhlasan seseorang yakni;
1). Senantiasa
berbuat yang terbaik. Ketika ia menjadi pemimpin, hatinya tidak dikuasai
kesenangan untuk dilihat banyak orang, menonjolkan diri agar orang melihatnya
sebagai yang terbaik serta dalam menduduki sebuah jabatan, hatinya tidak
terlarut dalam kekuasaan, sehingga sewenang-wenang dalam mengambil kebijakan.
Ia lebih suka melakukan hal baik yang tidak dilihat orang. Ia takut jika nanti
akan menimbulkan rasa kebanggaan atas dirinya sendiri setelah melakukan hal-hal
baik.
2) sabar
sepanjang jalan. Orang yang berusaha ikhlas akan mengerti bahwa tanggungjawab
yang harus ia selesaikan membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran yang lebih.
Ia tidak akan mudah putus asa dalam memperbaiki dirinya dan masyarakat bahkan
negara ini. Ketika orang-orang mencaci dan memakinya, ia sadar bahwa itu adalah
ujian yang dapat membuatnya tegar dan kuat. Cobaan itu semua tidak lantas
membuatnya patah semangat, berhenti ditengah jalan ataupun malas.
3) senang jika
ada yang bergabung denganya. Orang yang ikhlas adalah orang yang memberikan
kesempatan dan harapan kepada orang lain untuk berubah menjadi lebih baik. Ia
tidak pernah mendengki atau pun mendendam orang yang pernah bertengkar terhadap
suatu masalah yang berbeda pendapat denganya. Karena tujuan yang ingin ia capai
adalah untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi. Itulah
beberapa contoh perilaku seseorang yang menanamkan sifat ikhlas dalam
kehidupanya.
Sebuah fakta
yang dapat kita ambil pelajarannya, datang dari pulau jawa. Tepatnya berada di
daerah keistimewaan, masih termasuk kedalam waktu Indonesia bagian barat. Salah
satu kota yang pantas dijadikan contoh keihlasan dalam berperikehidupan. Adalah
Yogyakarta, kota yang merupakan salah satu destinasi wisata terbesar di
Indonesia ini sebenarnya tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan.
Lalu apa sebabnya, hingga kini orang-orang berlalu-lalang datang, singgah,
bahkan ingin menetap di kota ini? jawabanya adalah karena Yogyakarta berhati
nyaman.
Setidaknya
slogan inilah yang mencerminkan penduduk kota Yogyakarta. Mereka tidak memilki
sumber daya alam, namun keramah-tamahannya memiliki nilai estetika yang
melebihi indahnya sumber daya alam. Mereka telah siap untuk menyambut tamu
dengan segala keikhlasan, persaudaraan, dan kelembutan hati. Mereka siap
berbagi tempat, berbagi kisah, berbagi kebahagiaan. Berbeda dengan kota-kota yang
memiki potensi sumber daya alam melimpah, namun mereka belum siap dengan
kedatangan tamu. Sehingga segala cara mereka lakukan untuk memaksimalkan
potensi yang ada untuk memakmurkan diri sendiri.
Agar
kebangkitan bangsa tidak hanya sebatas jargon, perlu adanya keikhlasan dalam
berperikehidupan. Karena perilaku ikhlas, akan mendorong pelakunya menjadi
orang yang senantiasa memperbaiki diri. Disukai banyak orang dan menjadikannya
tak segan saling mengingatkan kepada kebaikan. Ia adalah orang yang tak suka
akan ketenaran, jabatan dan hal-hal yang banyak mengundang permasalahan. Jika
ia diberikan amanah, maka ia akan melaksanakanya dengan penuh tanggungjawab,
dengan penuh kerendahan hati. Seperti yang diungkap oleh Ibnu Mas’ud R.A, ia
dikenal penduduk langit namun tidak dikenal luas penduduk bumi. Orang-orang
semacam nilah yang dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia.
semangat 19!
Komentar