Langsung ke konten utama

Salam Generasi Emas

DARI GENERASI EMAS UNTUK GENERASI EMAS
*) Oleh: Khomsun Subarkah


Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.”  Mereka malah menjawab, “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran.
Ath Thobari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad 2: 163).

Inikah Negeri Ku?
Kurikulum 2013 telah resmi dilaksanakan, namun masih saja masalah-masalah terkait seperti SDM yang belum siap, pendistribusian buku belum semua terpenuhi dan berbagai hal lainya masih membayangi kemajuan pendidikan di Indonesia. Padahal kurikulum berganti karena zaman sudah berganti, bukan karena ganti menteri ganti kurikulum. Bukan pula karena comot sana comot sini.
Masalah pendidikan, ekonomi, budaya dan lainya yang terjadi tak kunjung selesai sebelum akar dari permasalahan tersebut yaitu moral dan akhlak benar-benar tuntas melekat mendarah daging dalam diri setiap orang. Karena masyarakat masih berangan-angan untuk melakukan hal besar namun dari hal kecil masih dilupakan.
Pendidikan yang saat ini berlangsung belum banyak berpengaruh pada pendidikan karakter walaupun dalam kurikulum yang baru jelas tertulis mewujudkan pendidikan karakter. Lihat saja keadaan masyarakat sekitar, sedikit sekali perbedaan akhlak antara yang terpelajar dengan yang bukan terpelajar. Padahal output dari pendidikan yang disandangkan adalah berakhlak mulia.
“Era globalisasi telah membuat jiwa dan patriotisme terdesak oleh nilai-nilai materialisme, seiring dengan melemahnya etika dan moral”. (Firdaus Syah, 2008: 343). Ternyata ada yang benar-benar menjadi biang masalahnya. Masyarakat belum sepenuhnya siap untuk menghadapi era globalisasi. Modal pendidikan yang hanya sebatas mengejar materi tak dapat menahan kuatnya arus globalisasi. Karena pendidikan itu harus beriringan dengan aplikasi dikehidupan.
Bukan sebuah wacana lagi bahwa asean community yang Indonesia termasuk dalam anggotanya akan dimulai pada awal tahun 2015 esok. Apakah Indonesia sudah siap dalam segala bidang untuk menyambut pasar bebas tersebut?
Perlu sebuah solusi mendasar yang harus diterapkan pada masalah ini. Bukan pada negeri ini yang abstrak namun pada kualitas orang-orang yang hidup didalamnya. Adakah orang yang dapat mengubah negeri ini menjadi negeri yang bermartabat seperti layaknya negeri timur tengah pada masa keemasan islam?

Dari Generasi Emas Untuk Generasi Emas
History make man a wish atau ungkapan Bung Karno “Jas Merah” adalah pernyataan-pernyataan tegas untuk tidak melupakan sejarah dalam menyikapi berbagai permasalahan. Hal ini umumnya tidak ada yang menyanggah karena telah terbukti kebenaranya melalui berbagai peristiwa, seperti negeri jepang yang hancur lalu kembali bangkit karena guru-guru mereka lalu dijadikan pelajaran bagi Indonesia untuk menghormati guru.
Jika ingin menjadi generasi emas, maka kita harus benar-benar bercermin pada generasi emas sebelumnya yang pernah ada. Sosok teladan akan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Bagaimana seharusnya dalam bersikap, dari hal kecil hingga hal yang besar. Pernyataan ini diperkuat di dalam Al-Quran surat al-fatihah ayat ke 6-7, “tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Dalam artian jalan yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka adalah jalan orang-orang yang shaleh, jalan hidup yang benar yang dapat membuat hidup bahagia dunia dan akhirat. Sedangkan jalan mereka yang dimurkai adalah mereka yang sengaja menentang ajaran islam, dan mereka yang sesat adalah mereka yang sengaja mengambil jalan lain selain islam.
Ayat diatas jelas memberikan pengaruh yang kuat dikalangan muslim. Karena mereka percaya dengan berdoa agar tetap berada dijalan yang lurus mampu mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan peradaban yang gemilang. Hal ini terkait dengan bagaimana generasi emas itu dapat mengukir peradaban melalui kepercayaan dan ilmu yang terkandung didalamnya.
Indonesia yang mayoritas beragama islam tentu telah mengerti bahwa negara yang diantunya adalah berlandaskan pancasila. Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan negara yang harus dijaga dan dijunjung tinggi. Artinya makna toleransi di Negeri ini menjadi nomor satu untuk diperjuangkan. Berbagai bidang kehidupan didalamnya yang membangun peradaban tentunya memiliki batasan-batasan tertentu sehingga menimbulkan adanya kelebihan dan kekurangan.
Zaman telah berganti. Kurikulum dan metode yang digunakan pun harus mengikuti. B.J. Habibie mengemukakan “dalam arus globalisasi, kita harus ikut, jika tidak kita akan terisolasi, dan itu merugikan, konyolnya lagi globalisasi seperti kolonialisasi zaman baheula, hanya saat ini ia sembunyikan atau disebut sebagai standar ganda. (Firdaus Syah, 2008: 343).
Mengutip dari jurnal “Konsep Pendidikan Az-Zarnuji dan Ibnu Taimiyah” yang dikarang oleh Syamsuddin Dosen pada Fakutas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar mengatakan;
“Tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibn Taimiyah dibangun atas dasar falsafah pendidikannya. Falsafah yang dimaksudkan adalah ilmu yang bermanfaat sebagai asas bagi kehidupan yang cerdas dan unggul. Menurutnya tujuan pendidikan dapat dibagi kepada tiga bagian yakni: Tujuan Individual, Tujuan Sosial, dan Tujuan Da'wah Islamiyah.
1) Tujuan Individual
Pada bagian ini tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuk-nya pribadi muslim yang baik, yaitu seseorang yang berpikir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Orang semacam ini hidup sejalan dengan akidah Islamiyahnya, serta mati dalam keadaan beragama Islam.
Dalam hubungan ini Ibn Taimiyah mengatakan hendaknya seorang yang menuntut ilmu agar berupaya memahami tujuan perintah dan larangan serta segala ucapan yang datang dari rasul. Selanjutnya jika hati seseorang telah meyakini bahwa apa yang dijalaninya itu sebagai yang dikehendaki rasul, maka janganlah berpaling kepada jalan yang lain23. Pada bagian lain Ibn Taimiyah mengatakan bahwa pribadi Muslim yang baik adalah orang yang sempurna kepribadiannya, yaitu yang lurus jalan pikiran serta jiwanya, bersih keyakinannya, kuat jiwanya, sanggup melaksanakan segala perintah agama dengan jelas dan sempurna.

2) Tujuan Sosial
Pada bagian ini Ibn Taimiyah mengatakan bahwa pendidikan juga harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang se-jalan dengan ketentuan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Tujuan pendidikan tersebut sejalan dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki dua sisi kehidupan, yaitu sisi kehidupan individual yang berhubungan dengan beriman kepada Allah; dan sisi kehidupan sosial yang berhubungan dengan masyarakat, tempat di mana manusia itu hidup.
Dalam hubungan ini Ibn Sina menuduh bid'ah kepada orang yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan hanya ditujukan pada semata-mata ibadah kepada Allah, tetapi melupakan masyarakatnya. Orang yang membaca Al-Qur'an, giat dalam shalat dan puasa, tetapi membuat kaum Muslimin lainnya bergelimang dalam dosa dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama, saling mendustai dan sebagainya dianggap sebagai ahli bid'ah.
Seseorang hendaknya menjadi ahli As-Sunnah, yaitu orang yang mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah, tunduk kepada kebenaran (al-haqq) dan kasih sayang pada orang lain. Pada tujuan sosial ini, pendidikan diarahkan agar dapat melahirkan manusia-manusia yang dapat hidup bersama dengan orang lain, saling membantu, menasehati, mengatasi masalah, dan seterusnya.

3) Tujuan Da'wah Islamiyah
Tujuan ketiga yang harus dicapai oleh pendidikan menurut Ibn Taimiyah adalah mengarahkan ummat agar siap dan mampu memikul tugas da'wah Islamiyah ke seluruh dunia. Pandangannya itu didasarkan pada pendapatnya bahwa Allah Swt. telah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan memberi peringatan, sehingga segenap manusia hanya mengikuti Allah dan Rasul-Nya saja. Sementara manusia juga memikul beban mengajak manusia lainnya kepada jalan yang baik dan mencegah berbuat buruk. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi:
"Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah,"(QS. Ali `Imran: 110)
Dalam menjelaskan ayat tersebut Ibn Taimiyah mengutip pendapat Abu Hurairah yang mengatakan bahwa kehadiran manusia yang datang kepada manusia lain dengan dakwah adalah berupaya melepaskan belenggu dari rantai kebodohan sehingga mereka itu dapat masuk surga. Orang semacam itu rela mengorbankan harta dan jiwanya dalam berjuang untuk kemanfaatan manusia. Orang seperti inilah yang termasuk ummat yang baik. Makhluk itu tak ubahnya ba-gaikan keluarga Allah, mereka berusaha mencintai Allah dengan jalan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk-Nya itu.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tahap ketiga ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menyebarluaskan ilmu dan ma'rifat yang didatangkan Al-Qur'an al-Karim sebagaimana hal itu dilakukan kaum salaf, yakni sahabat dan tabi'in. Kedua dengan cara berjihad yang sungguh-sungguh sehingga kalimat Allah yang demikian tinggi itu dapat berdiri tegak.

Tentunya kita tidak melihat pelajaran tersebut disatu pihak. Namun jika ingin belajar dari teori yang diajarkan oleh Ibn Taimiyah tersebut tentulah negeri ini akan menjadi negeri yang baik. Karena dari hal yang paling kecil saja seperti adab dan akhlak sangat ditekankan pada bab ini. Inilah yang menjadi point utama untuk mengembangkan negeri ini menuju generasi emas, karena kita telah memiliki pegangan yang jelas, yang sudah terbukti dizamanya menggoreska sejarah peradaban yang baik.
Apalagi kita sekarang telah memasuki era globalisasi, dimana pasar bebas akan bersaing di negeri ini. Maka dari itu agar tidak ada sekat antar negara ASEAN maka dirasa penting untuk menguasai bahasa mereka juga. Seperti yang dicontohkan oleh generasi emas lainya yang telah menguasai Bahasa diberbagai penjuru dunia. Kreativitas disini akan sangat dibutuhkan, karena mengingat kita tidak lagi dalam zaman renaissance, kita sudah maju selangkah dari itu.semangat 18!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20. Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerint...

maha? siswa!

Aku tahu menjadi seorang Mahasiswa itu sangatlah sulit. Dia diberikan amanah dan harapan yang sangat besar dari sebuah Negara, padahal dia baru saja keluar dari zona mengenal diri. Lihat saja, apa engkau tahu tujuan dbetnuknya perguruan tinggi? Ya dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 tujuan itu berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”. Bukankah itu amanah yang sangat besar? Mahasiswa disiapkan untuk memiliki kemampuan akademik, lalu disuruh untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu itu kemasyarakat dengan tujuan Negara yang makmur dan sejahtera. Bukankah ini tugas yang sangat berat kawan, bahkan seorang presidenpun sampai saat ini taka da yang dapat menyempurnakan tugas ini? Menjadi seorang mahasiswa itu penuh tantangan. Dia bukanlah seorang anak kecil yang...

Sendiri

dalam mimpiku aku berjalan sendiri mengarungi samudera khayal tak bertepi petunjuk arah yang tak pasti ku lalui terbangun, mengunggu hingga mati ku lihat hallo mengarungi matahari menyambut sinarnya yang menerangi namun dia datang hanya sekali tak pernah ku lihat setiap hari hai kegelapan, enyahlah sang lilin datang dengan gagah mengusirmu, memekarkan sinarnya hingga merekah tinggallah seberkas harapan dan cinta kuharap kalian akan selalu ada disetiap kuterbangun dalam raga mengusir benci dalam jiwa rasanya, ku tak berguna hari ini kemalasan melanda tandaku sudah mati teman, sahabat, orang tua tak peduli karena aku selalu sendiri semangat 18!