Langsung ke konten utama

Agar Hati Meleleh Karena Cinta Kepada-Nya

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S Al-Mulk: 2)


Ujian adalah bahasa Allah dalam menguraikan kasih sayang-Nya. Kadangkala ia berupa kebahagiaan, disisi lain manampakkan kesedihan. Kadang ia adalah kegagalan dilain waktu ia berwujud keberhasilan. Tidak ada sesuatu pun yang pasti dalam kehidupan ini, kecuali kematian. Dan kematian merupakan tanda bagi tercukupinya semua kasih sayang yang Dia berikan ketika hidup. Maka, bagaimanakah kita menafsirkan dan memanfaatkan kasih sayang-Nya itulah yang menjadi bekal pulang menuju kampung halaman (akhirat).


Ketika Lalai Maka Ikatlah

Pernah? Berbahagia bersama orang-orang yang tersayang? Disaat itu semua rasa syukur kepada Allah meningkat, dengan mudahnya kita berucap syukur atas nikmat yang Allah berikan. Seolah hidup akan terus berulang seperti hari itu, dan pasti semua orang menginginkan semua hari menjadi hari-hari yang penuh kebahagiaan. Namun disisi lain, ada orang yang lupa bersyukur atas hari-hari yang berbahagia itu. Dalam bahagianya ia tak mengenal batas waktu, tempat, keadaan, bahkan Allah-pun Ia lupakan. Ia terlena dengan kebahagiaan itu sendiri. Sampai-sampai ia-pun tak ingat apa yang telah terjadi pada hari itu. Pernah merasa seperti ini?

Ada seseorang yang sedang dirundung kesedihan. Keadaanya sangat memprihatinkan. Ia menyerah pada suatu keadaan. Orang-orang meninggalkannya bahkan ia sampai berharap tidak ada hari lagi selain hari itu. Ia ingin segera mencukupi segala yang terjadi. Ia ingin berubah, ia ingin berpindah, ia ingin pergi jauh dari hari dan keadaan itu. Tidak ada ingatan sama sekali bahwa ia masih memiliki hari esok, yang ia tahu hari itu, esok dan seterusnya adalah misteri yang akan terus terulang pada dirinya. Ia benar-benar lupa dan melupakan dirinya sendiri. Ada juga yang pernah merasa seperti itu?

Entah bagaimana variasinya dalam kehidupan ini, saya yakin semua orang pernah Allah uji dengan kebahagiaan dan kesedihan. Lalai adalah kata kunci penyebab seseorang sulit memahami berbagai ujian yang Allah berikan. Ia terbentuk disebabkan berlebihannya seseorang dalam mensikapi sebuah keadaan. Maka untuk mengobatinya perlu mengingat bahwa ketika bahagia, berbahagialah secukupnya, tatkala sedih, sedihlah sewajarnya, dan yang perlu ditekankan adalah bersyukur sebanyak-banyaknya.

Lalai bukan sebuah kondisi yang dapat dengan mudah diprediksikan kapan terjadi. Ia sering muncul pada keadaan yang tidak pernah terlintas dibenak seseorang. Salah satu faktor pendukung kelalaian adalah keadaan aman dan nyaman yang dirasa oleh seseorang. Maka tatkala rasa aman dan nyaman telah merasuki hati, maka hati akan menjadi buruk. Tersebab hati adalah raja tubuh, maka apa-apa yang dilakukan oleh hati dikala itu terasa baik. Oleh karenanya ikatlah sedih dan bahagia itu masuk kedalam tulisanmu. Agar ia selalu dapat dibaca dan diingat.

Dengan menulis, engkau merangkai kisahmu. Karenanya catatlah segala yang terjadi, setiap apapun yang terlintas, dan semampu hati menyerap. Yakinlah, tulisan itu merupakan sumber motivasi tiada batas yang Allah siapkan untuk melalui hari-harimu dimasa depan. Melalui tulisanmu itu, Allah ingin engkau bertegur sapa denganNya. Apabila engkau terpuruk, bukalah tulisanmu dan lihatlah bahwa engkau dahulu pernah melaluinya. Bahwa engkau dahulu pernah sabar dalam menjalaninya. Bahwa engkau dahulu dengan gemilang menyelesaikannya.

Yakinlah, Allah tiada mencipta hari-harimu dengan kesia-siaan. Semua keluh kesahmu, tentang futurmu, tiap tangismu dari derita yang engkau lalui itu, ada ibrah yang Allah bingkiskan untukmu. Tugasmu hanyalah meyakinkan-Nya, bahwa engkau mampu melaluinya. Tugasmu hanya percaya pada dirimu, bahwa ini hanya sebatas ujian dari-Nya. “Andai kau tahu, bagaimana hebatnya Allah mengatur segala urusan hidupmu, pastilah hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya” –Ibnul Qayyim. Maka dari itu menulis adalah cara mengetahui bagaimana Allah telah mengatur hidup kita dengan sangat indah. Dengan itu, menulis adalah upaya melelehkan hati agar cinta kepada-Nya.

Khomsun Subarkah, semangat 21!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20. Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerint...

maha? siswa!

Aku tahu menjadi seorang Mahasiswa itu sangatlah sulit. Dia diberikan amanah dan harapan yang sangat besar dari sebuah Negara, padahal dia baru saja keluar dari zona mengenal diri. Lihat saja, apa engkau tahu tujuan dbetnuknya perguruan tinggi? Ya dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 tujuan itu berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”. Bukankah itu amanah yang sangat besar? Mahasiswa disiapkan untuk memiliki kemampuan akademik, lalu disuruh untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu itu kemasyarakat dengan tujuan Negara yang makmur dan sejahtera. Bukankah ini tugas yang sangat berat kawan, bahkan seorang presidenpun sampai saat ini taka da yang dapat menyempurnakan tugas ini? Menjadi seorang mahasiswa itu penuh tantangan. Dia bukanlah seorang anak kecil yang...

Sendiri

dalam mimpiku aku berjalan sendiri mengarungi samudera khayal tak bertepi petunjuk arah yang tak pasti ku lalui terbangun, mengunggu hingga mati ku lihat hallo mengarungi matahari menyambut sinarnya yang menerangi namun dia datang hanya sekali tak pernah ku lihat setiap hari hai kegelapan, enyahlah sang lilin datang dengan gagah mengusirmu, memekarkan sinarnya hingga merekah tinggallah seberkas harapan dan cinta kuharap kalian akan selalu ada disetiap kuterbangun dalam raga mengusir benci dalam jiwa rasanya, ku tak berguna hari ini kemalasan melanda tandaku sudah mati teman, sahabat, orang tua tak peduli karena aku selalu sendiri semangat 18!