Langsung ke konten utama

WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI PEDOMAN DALAM MENGHADAPI MEA



Indonesia sebagai bagian dari negara yang berada dikawasan Asia tenggara tentunya telah menyepakati adanya perjanjian pasar bebas antar anggota ASEAN yang terbentuk dalam organisasi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Beberapa hal yang menguntungkan dipihak indonesia adalah karena indonesia memilki SDA (sumber daya alam) yang lebih unggul dari negara lain, seperti keunggulan gas sebanyak 169,5 TCF dan Coal sebanyak 38,000 Kton dibanding negara ASEAN lain.
Sebagai negara kepulauan yang menempati urutan ke-2 terbesar di dunia, konsekuensi yang harus diterima negara kepulauan Indonesia adalah sulitnya mengintegrasikan masing-masing daerah, terutama daerah yang sering disebut dengan daerah terluar, terdepan dan terpinggir.
Beberapa kasus yang tengah hangat diperbincangkan akhir-akhir ini, seperti kasus pendirian mercusuar oleh negara Malaysia di tanjung datu, pencurian ikan oleh negara tetangga, pengambilan pasir laut di Kepulauan Riau serta pulau natuna yang tengah diperbincangkan terkait pen-caplok-an oleh negara China membuat kita bertanya-tanya, mengapa semua itu dapat terjadi? Bukankah indonesia telah memilki hukum yang berlaku atas semua kekayaan yang dimiliki?
Dapatkah diprediksikan apabila di negeri Indonesia pada saat sebelum dimulainya pasar bebas saja sudah banyak kehilangan SDA seperti kasus diatas, bagaimanakah peristiwa-peristiwa selanjutnya yang akan terjadi ketika sudah dimulainya pasar bebas ASEAN? Mengingat masyarakat Indonesia yang mulai kehilangan semangat nasionalismenya, seperti pudarnya budaya orang tua mengajak anak-anaknya pergi ke museum pahlawan, malah lebih membiarkan industri musik korea sebagai sarana hiburan anak-anak.
Bukan sebuah pesan teror atau menakut-nakuti yang sebenarnya hendak disampaikan, melainkan sebuah pesan rasa nasioanalisme yang kian menggebu karena Indonesia telah banyak mengalami kerugian. Memang kekhawatiran itu ada, namun yang lebih penting lagi adalah begaimanakah sikap masyarakat dalam menghadapi pasar bebas ASEAN yang hanya menghitung bulan?
Wawasan Nusantara, Kunci MEA
ASEAN Economic Community (AEC) atau dalam Bahasa Indonesia adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah salah satu konsep penyatuan ASEAN yang telah disetujui bersama oleh para Kepala negara anggota ASEAN dalam pertemuan di Bali 2003 lalu. Negara yang tergabung dalam MEA ini adalah 1) Indonesia, 2) Malaysia, 3) Filipina, 4) Singapura, 5) Thailand, 6) Brunei Darussalam, 7) Vietnam, 8) Laos, 9) Myanmar, 10) Kamboja.
Dalam declaration of ASEAN Concord II atau dikenal dengan BALI Concord II, konsep MEA mulai diperkenalkan. ASEAN akan bersatu menjadi pasar tunggal dan akan menyatukan basis produksi di seluruh negara ASEAN. Kerjasama industri dan pasar bersama itu diharapkan dapat mengurangi kemiskinan melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.
Sejak tahun 2003, para pemimpin 10 negara anggota ASEAN sudah merintis munculnya basis perekonomian yang besar diwilayah Asia Tenggara. Tepat pada tanggal 31 desember 2015, MEA akan resmi dibuka sesuai dengan kesepakatan. Begitu MEA dibuka, maka akan terjadi aliran-aliran yang bebas keluar masuk antar negara anggota ASEAN seperti permodalan, investasi, sumber daya manusia dan produk barang.
Melalui MEA ini posisi tawar menawar negara ASEAN di perekonomian global diharapkan menjadi lebih kuat.  Tujuan akhir MEA yang dideklarasikan di Bali adalah  terciptanya wilayah ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan sangat kompetitif, sehingga mendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan ASEAN di dunia.
Indonesia memiliki basis potensi sumber daya alam melimpah, kekayaan tradisi dan budaya yang bisa menjadi unique selling point produk khas Indonesia dan kuantitas sumber daya manusia yang sangat besar. Apabila semua potensi itu dapat di integrasikan dan dimanfaatkan ssecara optimal, maka peluang MEA ini bagi Indonesia akan berbanding lurus keuntunganya dengan potensinya.
Dalam upaya mengintegrasikan semua potensi yang ada harus diadakanya pembinaan dan penguatan dari waktu ke waktu. Integrasi yang saya maksud adalah keinginan, kehendak, dan tindakan yang berujung pada penyatuan bangsa. Kelalaian memperhatikan integrasi ini dapat berujung pada konflik dan bahkan disintegrasi bangsa. Contohnya, keinginan berpisah dari NKRI oleh sebagian masyarakat Papua, Aceh, dan Maluku karena selama puluhan tahun mereka hanya menjadi obyek bukan subyek pembangunan.
Salah satu upaya untuk memperkuat integrasi dalam hal ini integrasi nasional adalah dengan Wawasan Nusantara. Menurut Ermaya Suradinata dalam buku Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam Kerangka Keutuhan NKRI. Cetakan 2005  (Jakarta: Suara Bebas. Hal 12-14), Wawasan Nusantara  adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam pelaksanaannya, Wawasan Nusantara mengutamakan kesatuan wilayah dan menghargai kebhinekaan untuk mencapai tujuan nasional, yang intinya adalah persatuan dan kesatuan bangsa.
Apabila dalam menghadapi MEA masyarakat indonesia telah paham dengan keadaan bangsa, semua potensi yang dimilki negerinya maka semangat nasionalisme itu akan dengan sendirinya terbangun, sehingga dapat mendorong produktivitas dan kualitas dalam bersaing.
Banyak tantangan di masa depan untuk bangsa Indonesia, dan Wawasan Nusantara, yang bisa memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, bisa jadi adalah konsep yang dapat membawa Indonesia melalui tantangan-tantangan tersebut.

Bagaimanakah Pedoman Wawasan Nusantara Dalam Menghadapi MEA?
Seperti halnya membeli sebuah payung, seseorang harus paham fungsi masing-masing perangkat dan tujuan diciptakanya payung agar penggunaan dapat berjalan secara nyaman dan optimal serta tidak terguyur air hujan ketika hujan datang. Begitupun dengan MEA, perlu adanya pedoman dan arahan yang jelas dalam menghadapinya, sehingga dalam pelaksanaanya masyarakat tidak merasa dirugikan.
Apapun yang terjadi, dalam menghadapi MEA, pemerintah harus berpedoman kepada wawasan nusantara agar tidak terjadi disintegrasi bangsa. Bisa jadi kelelaian dalam memperhatikan hal ini akan berdampak pada hilangnya sumber-sumber potensial bangsa.
Contoh kasus yang sering terjadi di Indonesia adalah, ketika seseorang pergi untuk bekerja di Negara lain yang menghasilkan lebih banyak uang, maka jika orang tersebut lemah dalam nasioanalismenya barang tentu dia akan memilijh Negara selain Indonesia untuk ditempati. Karena saipapun masyarakatnya pasti sangat suka akan kemapanan hidup.
Ini yang perlu diperhatikan, karena jaminan hidup, jaminan pekerjaan yang ada di Indonesia belum begitu memuaskan, maka banyak tenaga kerja terdidik maupun yang tidak terididik banyak yang pindah keluar negeri, ini juga merupakan bukti bahwa kurangnya pemerintah dalam memperhatikan wawasan nusantara.
Selain itu, pulau-pulau terdepan, terluar, terpinggir yang dimilki indonesia juga belum diperhatikan. Banyak sekali kasus yang telah terjadi terkait dengan pengambilan kekayaan yang ada disekitarnya. Pemahaman masyarakat yang masih kurang, menyebabkan hialngnya kesadaran akan pentingnya rasa memiliki dan ikut menjaga.
Transmigrasi sebagai upaya desentralisasi di pulau-pulau tersebut memang belum efektif, karena tidak akan ada orang yang mau hidup ditempat yang belum ada fasilitas yang menunjang kehidupan, layaknya masyarakat desa, perlu air yang bersih, listrik dan sebagainya.
Jika tidak segera ada peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penjaminan hak hidup Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak nomor empat di dunia,  akan menjadi pangsa pasar empuk bagi produsen di wilayah lain ASEAN karena ilmu yang belum mencukupi.
Dari beberapa alasan di atas, jelaslah bahwa pendidikan yang diperlukan bangsa Indonesia adalah pendidikan yang ber Wawasan Nusantara. Maka sudah seharusnya upaya mengatasi masalah ketimpangan yang berkaitan dengan MEA diselesaikan dengan pengetahuan mengenai kondisi bangsa.
Tentunya pendidikan berwawasan nusantara itu harus dilakukan bertahap dan terus menerus dalam waktu lama, untuk menumbuhkan persatuan dan kesatuan, yang pada akhirnya akan memperkuat ketahanan sosial, ekonomi dan hankam negara kita ini. Pendidikan itu harus dilakukan sejak jenjang  SD, SMP, dan SMA agar timbul nasionalisme serta rasa memiliki.
Bisa jadi, jika masyarakat Indonesia telah menerapkan wawasan nusantara yang menimbulkan semangat nasionalisme, maka beberapa contoh prestasi yang perlu dikembangkan, seperti; Composser terkenal yang pernah menjadi Composser soundtrack TV Battle Star Galaktika, menggunakan gamelan sebagai pengisi suara untuk video game Socom 4. Dan seorang pria asal London, mempelajari wayang dan menjadi dalang yang cukup handal. Beliau mengajari mahasiswanya di London dengan mata kuliah khusus pewayangan, Akan terus bertambah.

semangat 18!

Komentar

Unknown mengatakan…
Boleh tahu sumbernya? Saya tertarik dengn tulisn Anda
Unknown mengatakan…
Ini essay saya. sumbernya dari buku kuliah saya sendiri
Lucky mengatakan…
Wow bagus sekali mas!

Postingan populer dari blog ini

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20. Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerint...

maha? siswa!

Aku tahu menjadi seorang Mahasiswa itu sangatlah sulit. Dia diberikan amanah dan harapan yang sangat besar dari sebuah Negara, padahal dia baru saja keluar dari zona mengenal diri. Lihat saja, apa engkau tahu tujuan dbetnuknya perguruan tinggi? Ya dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 tujuan itu berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”. Bukankah itu amanah yang sangat besar? Mahasiswa disiapkan untuk memiliki kemampuan akademik, lalu disuruh untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu itu kemasyarakat dengan tujuan Negara yang makmur dan sejahtera. Bukankah ini tugas yang sangat berat kawan, bahkan seorang presidenpun sampai saat ini taka da yang dapat menyempurnakan tugas ini? Menjadi seorang mahasiswa itu penuh tantangan. Dia bukanlah seorang anak kecil yang...

Sendiri

dalam mimpiku aku berjalan sendiri mengarungi samudera khayal tak bertepi petunjuk arah yang tak pasti ku lalui terbangun, mengunggu hingga mati ku lihat hallo mengarungi matahari menyambut sinarnya yang menerangi namun dia datang hanya sekali tak pernah ku lihat setiap hari hai kegelapan, enyahlah sang lilin datang dengan gagah mengusirmu, memekarkan sinarnya hingga merekah tinggallah seberkas harapan dan cinta kuharap kalian akan selalu ada disetiap kuterbangun dalam raga mengusir benci dalam jiwa rasanya, ku tak berguna hari ini kemalasan melanda tandaku sudah mati teman, sahabat, orang tua tak peduli karena aku selalu sendiri semangat 18!