Langsung ke konten utama

Esai Pertama : Pemuda Itu Harus Langitan

PEMUDA LANGITAN
*) oleh Khomsun Subarkah

Ayah, apakah kita bisa selalu berbuat kebaikan dan tidak berbuat jahat, selama satu tahun?” tanya si anak. Sang Ayah kemudian berpikir dan merenung, kemudian berkata, “Sepertinya tidak mungkin, nak!”.
Kemudian si anak bertanya, “kalau tidak bisa satu tahun, bisakah kita berbuat kebaikan selama 1 bulan saja dan tidak berbuat kejahatan”, sang ayah menjawab, “Tidak mungkin juga, nak”,
Si anak masih belum puas dengan jawaban sang ayah, dia bertanya lagi, “Kalau 1 hari bisa tidak, yah”, sang ayah berkata, “Masih agak sulit, tidak bisa”, si anak masih penasaran, kalau 1 hari pun tidak bisa, akhirnya dia bertanya, “Kalau 1 menit, apakah kita bisa selalu berbuat kebaikan dan tidak berbuat jahat?”.
Sang ayah merenung dan menjawab, “itu bisa, karena hanya 1 menit”. Si anak pun tersenyum dan melakukan berbagai hal sederhana secara berulang-ulang setiap menit.
Kisah selamanya akan menjadi kisah apabila kita tidak dapat mengambil hikmahnya. Kisah diatas menggambarkan bahwa setiap manusia seiring berjalanya waktu pasti melakukan kesalahan. Baik itu hari yang lalu maupun yang akan datang.
Kesadaran manusia untuk menjaga agar tetap berbuat baik tanpa melakukan perbuatan yang buruk tergambar hanya sekitar 1 menit. Hal ini menunjukkan bahwa sifat alami manusia tidak dapat dipisahkan dari perbuatan yang buruk walaupun manusia itu menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya.
Bayangkan saja, jika setiap manusia berhasil melakukan perbuatan baik tanpa melakukan perbuatan buruk selama satu menit dan itu dilakukan secara terus menerus tanpa putus, maka bisa jadi dunia ini tidak lagi membutuhkan polisi untuk sekadar mengamankan presiden yang lewat dijalan raya.

Indonesia dan Pendidikanya
UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan, pendidikan adalah upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampialan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan merupakan faktor utama penentu kepribadian seseorang. Dimana akhlak yang merupakan output dari pendidikan akan menentukan seberapa besar kualitas pelajarnya. Tidak dapat dipungkiri jika kita menginginkan kebaikan dunia maupun akhirat maka yang menjadi tunggangan kita adalah ilmu. Namun, jika kita menengok keadaan Indonesia saat ini, bagaimanakah pendidikanya?
Sekolah-sekolah saat ini banyak sekali yang didirikan, namun disisi perempatan jalan masih saja banyak usia pelajar yang rela mengemis setiap hari untuk mencari makan. Pendidikan rupanya tidak untuk “konsumsi” rakyat jalanan. Pendidikan gratis disandangkan saat kampanye hitam, setelah dipilih mereka bungkam. Inikah Indonesia dan pendidikanya?
Masalah pendidikan setiap bulan datang, silih berganti seolah berlomba untuk “mampang” dikoran. Tak hanya sebatas iklan pendidikan, perniagaan pendidikan pun marak diungkapkan. Krisis moral dan akhlak yang terjadi kini, seolah menyematkan julukan baru bagi Indonesia “macan asia yang kehilangan taringnya”.
“Era globalisasi telah membuat jiwa dan patriotisme terdesak oleh nilai-nilai materialisme, seiring dengan melemahnya etika dan moral”. (Firdaus Syah, 2008: 343). Kutipan tersebut merupakan salah satu contoh akar dari permasalahan yang ada di Indonesia. Nilai-nilai materialism ini dibuktikan dengan sedikitnya karakter yang terbentuk dari sebuah pendidikan.
Pendidikan yang saat ini berlangsung tidak banyak mengandung “mauidzul hasanah”. Karena itu pelajar saat ini diliputi oleh berbagai angan-angan dan mimpi-mimpi kosong. Berharap menjadi orang yang besar padahal ditempat yang kecil saja belum mampu untuk berbuat banyak.
Inilah masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia, dimana pendidikan tak mampu lagi melahirkan pejuang-pejuang kemanusiaan. Pendidikan benar-benar “mandul” makna keteladanan. Degadrasi moral ini menjadi hal yang sangat lumrah didapatkan dimasyarakat sekitar.
Untuk mengatasi semua masalah diatas, Indonesia memerlukan orang yang benar-benar ikhlas dalam mendedikasikan dirinya untuk negeri ini. Tidak hanya sekadar pintar, namun moral juga menjadi modal utama untuk berdedikasi.

Pemuda Langitan
Ada yang hilang rupanya, jika berbicara mengenai perubahan tanpa mengaitkanya dengan pemuda. Seperti membicarakan negara jepang yang bangkit dari keterpurukan namun tidak membahas guru yang menjadi pioner utamanya. Karena pemuda itu diibaratkan seperti guru yang dicari oleh pemerintah jepang untuk membangun kembali negeri yang hancur akibat serangan pasukan Amerika.
Pemuda identik dengan “idealism”, “heroism”, dan “energik”, serta “dinamik”. Kita dapat melihat betapa kuatnya peran pemuda dalam kehidupan ini. Mereka tak hanya menjadi rujukkan dalam mengambil sebuah keputusan karena kecerdasan dan kebijaksanaanya, namun mereka juga sangat “getol” dalam memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Itu semua terwujud karena mereka memiliki hati yang jernih dan otak yang cerdas.
Lalu apa kaitanya pemuda yang dijelaskan tersebut diatas dengan masalah-masalah moral yang tengah dihadapi negeri ini?
Indonesia telah terbukti dan teruji para pemudanya telah memainkan peran penting dan selalu terdepan dalam menuntut dan melakukan perubahan sejarah bangsa Indonesia. Jika kita ingin mengulangi zaman keemasan para pemuda maka yang harus dilakukan adalah menjadi “pemuda langitan”. Bukan berasal dari langit ataupun yang selalu bermimpi pergi kelangit.
Pemuda langitan yang sesungghunya diperlukan bangsa ini, pemuda yang ilmunya menjulang ke langit namun hatinya masih menginjak bumi. Merekalah yang didambakan oleh setiap generasi insan merdeka. Mengambil beban tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya. Tidak ada kekhawatiran pada yang tua “akan kau bawa kemana negeri kita”. Anak-anak pun damai menikmati masa kecilnya dengan penuh suka ria.
Pemuda langitan adalah mereka yang selalu memberi manfaat kepada orang lain. Mereka memiliki visi yang jelas, tekad yang bulat, dan keistiqomahan yang kuat, serta keberanian yang besar untuk mewujudkan Indonesia yang beradab, adil dan makmur sesuai dengan keluhuran nilai-nilai pencasila.
Pemuda langitan adalah Mereka yang selalu berpikir apa yang dapat mereka lakukan pada menit ini. Mereka yang selalu menjaga dirinya dan menjadikan pembelajaran sebagai tujuan hidupnya sehingga keteladanan itu muncul dari dalam dirinya tanpa mereka sadari. Karena mereka percaya menjadi teladan yang baik merupakan langkah awal menjadikan Negeri ini menjadi Negeri yang adil, makmur dan sejahtera.
Jika kita asumsikan pemuda adalah mahasiswa, maka akan kita dapati perwujudan dedikasi untuk negeri adalah dengan benar-benar menuntut ilmu sesuai bidangnya. Membangun negeri ini dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Karena tidak mungkin kita dapat membangun negeri tanpa ilmu yang kita miliki.
Mahasisiwa yang dapat menjadi contoh bagi dirinya, selalu memberikan yang terbaik untuk apa yang diamanahkan kepadanya. Mahasiswa yang produktif dalam berkarya. Mahasisiwa yang memikirkan masa depan kebaikan bersama tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga bersikap mau berkorban waktu, harta dan tenaga.

Kesimpulan
Berbagai problema yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini tidak akan jauh dari degradasi moral. Pendidikan yang terus berjalan seiring berjalanya era globalisasi membutuhkan pengawalan yang ketat. Dalam artian bukan pendidikanya yang diawasi setiap saat, karena itu merupakan hal yang abstrak. Tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah mampu tidaknya pendidikan yang diajarkan benar-benar menghasilkan “mauidzul hasanah” atau pelajaran yang baik.
Jika kita bertanya apa yang dapat kita berikan untuk indonesia, maka kita akan mulai pemberian itu dari elemen terkecil sebuah negara yaitu diri kita sendiri. Tidaklah mungkin kita akan melakukan sebuah perubahan yang besar jika ditempat yang kecil saja kita belum mampu untuk melakukan sebuah perbaikan. Cukup berbuat baik selama 1 menit saja kepada diri sendiri, keluarga, dan orang-orang diseiktar kita secara terus menerus, maka dengan itu kita telah mampu untuk melakukan perubahan besar pada bangsa ini. Karena kualitas negara tercermin dari perilaku warga negaranya.

semangat 18!

Komentar

Anonim mengatakan…
MaasyaaAlloh... mari menjadi pemuda langitan. kobarkan pemuda langitan, pada diri dan orang lain. akan tetapi terkadang saya juga berfikir tidak serta merta bisa diwujudkan sebagai pemuda langitan. butuh kesabaran dan kesyukuran yang tulus untuk menjadi seorang Pemuda Langitan... ya. mari bangun bersama para pemuda langitan.. mari jangan prnah berhenti. karena sejatinya pemuda langitan itu yang akan tetap senantiasa bertahan dalam kondisi sesulit dan serumit apapun.. bahkan sulitnya memahamkan diri pada orang lain. apa yang menurut kita benar belum tentu dianggap benar oleh orang lain. anda memiliki kemampuan luar biasa untuk mengajak dan mengobarkan semangat.. tetap bertahan berjalan beriringan. sesulit dan serumit apapun keadaannya. meski yang kita lakukan mungkin itu kecil, namun yang kecil itu buatlah menjadi bermakna....

Postingan populer dari blog ini

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20. Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerint...

maha? siswa!

Aku tahu menjadi seorang Mahasiswa itu sangatlah sulit. Dia diberikan amanah dan harapan yang sangat besar dari sebuah Negara, padahal dia baru saja keluar dari zona mengenal diri. Lihat saja, apa engkau tahu tujuan dbetnuknya perguruan tinggi? Ya dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 tujuan itu berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”. Bukankah itu amanah yang sangat besar? Mahasiswa disiapkan untuk memiliki kemampuan akademik, lalu disuruh untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu itu kemasyarakat dengan tujuan Negara yang makmur dan sejahtera. Bukankah ini tugas yang sangat berat kawan, bahkan seorang presidenpun sampai saat ini taka da yang dapat menyempurnakan tugas ini? Menjadi seorang mahasiswa itu penuh tantangan. Dia bukanlah seorang anak kecil yang...

Sendiri

dalam mimpiku aku berjalan sendiri mengarungi samudera khayal tak bertepi petunjuk arah yang tak pasti ku lalui terbangun, mengunggu hingga mati ku lihat hallo mengarungi matahari menyambut sinarnya yang menerangi namun dia datang hanya sekali tak pernah ku lihat setiap hari hai kegelapan, enyahlah sang lilin datang dengan gagah mengusirmu, memekarkan sinarnya hingga merekah tinggallah seberkas harapan dan cinta kuharap kalian akan selalu ada disetiap kuterbangun dalam raga mengusir benci dalam jiwa rasanya, ku tak berguna hari ini kemalasan melanda tandaku sudah mati teman, sahabat, orang tua tak peduli karena aku selalu sendiri semangat 18!