la ilaha illallah muhammadur Rasulullah
yuk poro konco monggo sami jamaah
kersane angsal ganjaran katah
bagi yen mboten purun akhire rugi
rugi dunyo radadi nopo
rugi akhirat bakal ciloko
la ilaha illallahu muhammadur Rasulullah
Tujuh baris kalimat diatas adalah tembang nada yang sering ayahku lantunkan sembari menunggu anatara adzan dan iqomah di mushola. Ayahku adalah sosok yang sangat menginspirasi banyak orang
tak heran jika namanya sangat tersohor di daerah kelahiranya hingga tempat ia menetap sekarang.
Tembang nada ini sangat berarti bagiku
merantau didaerah seberang membuatku lebih memaknai tembang nada ini
menikmati alunan lagu yang sembari meresapi maknanya terkadang membuatku meneteskan air mata
masih terasa hangat dalam ingatanku, lagu ini sering beliau tembangkan pada saat maghrib tiba
suasana senja menjelang malam membuatku terhanyut dalam ruang rindu
Oh anak perantauan, kisahmu sungguh mengharukan
apakah hanya dengan kalimat seperti itu kau dapat meneteskan air matamu?
sungguh kasihanya orang-orang yang merasakan kesepian, ia begitu tersiksa dengan rasa rindunya
Tapi didalam lirik lagu tersebut, ada sesuatu yang membuatku bahagia
sesuatu makna yanag membuatku tetap kuat
sesuatu yang membuatku ingat akan tujuan akhir sebuah kehidupan.
ya, baris kelima dan keenam dari bait tersebut memberikanku sebuah kekuatan
"rugi dunyo radadi nopo
rugi akhirat bakal ciloko"
nasihat yang selalu beliau berikan kepada anaknya tanpa anaknya ketahui
Itulah ayahku, aku sugguh rindu dengan nasihat yang ia tembangkan
"rugi dunia tidak apa-apa
tapi rugi akhirat bakal celaka".
ya benar, rugi akhirat bakal menjadi sebuah musibah terbesar
nasihat ini terasa sangat membekas dihatiku.
aku sering merenung, sudah berapa kali kita meluangkan waktu kita untuk akhirat?
semangat 18!
Komentar