Langsung ke konten utama

Tembang Rindu Anak Perantauan

la ilaha illallah muhammadur Rasulullah
yuk poro konco monggo sami jamaah
kersane angsal ganjaran katah
bagi yen mboten purun akhire rugi
rugi dunyo radadi nopo
rugi akhirat bakal ciloko
la ilaha illallahu muhammadur Rasulullah

Tujuh baris kalimat diatas adalah tembang nada yang sering ayahku lantunkan sembari menunggu anatara adzan dan iqomah di mushola. Ayahku adalah sosok yang sangat menginspirasi banyak orang
tak heran jika namanya sangat tersohor di daerah kelahiranya hingga tempat ia menetap sekarang.

Tembang nada ini sangat berarti bagiku
merantau didaerah seberang membuatku lebih memaknai tembang nada ini
menikmati alunan lagu yang sembari meresapi maknanya terkadang membuatku meneteskan air mata
masih terasa hangat dalam ingatanku, lagu ini sering beliau tembangkan pada saat maghrib tiba
suasana senja menjelang malam membuatku terhanyut dalam ruang rindu

Oh anak perantauan, kisahmu sungguh mengharukan
apakah hanya dengan kalimat seperti itu kau dapat meneteskan air matamu?
sungguh kasihanya orang-orang yang merasakan kesepian, ia begitu tersiksa dengan rasa rindunya

Tapi didalam lirik lagu tersebut, ada sesuatu yang membuatku bahagia
sesuatu makna yanag membuatku tetap kuat
sesuatu yang membuatku ingat akan tujuan akhir sebuah kehidupan.

ya, baris kelima dan keenam dari bait tersebut memberikanku sebuah kekuatan
"rugi dunyo radadi nopo
rugi akhirat bakal ciloko"
nasihat yang selalu beliau berikan kepada anaknya tanpa anaknya ketahui

Itulah ayahku, aku sugguh rindu dengan nasihat yang ia tembangkan
"rugi dunia tidak apa-apa
tapi rugi akhirat bakal celaka".
ya benar, rugi akhirat bakal menjadi sebuah musibah terbesar
nasihat ini terasa sangat membekas dihatiku.

aku sering merenung, sudah berapa kali kita meluangkan waktu kita untuk akhirat?


semangat 18!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20. Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerint...

maha? siswa!

Aku tahu menjadi seorang Mahasiswa itu sangatlah sulit. Dia diberikan amanah dan harapan yang sangat besar dari sebuah Negara, padahal dia baru saja keluar dari zona mengenal diri. Lihat saja, apa engkau tahu tujuan dbetnuknya perguruan tinggi? Ya dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 tujuan itu berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”. Bukankah itu amanah yang sangat besar? Mahasiswa disiapkan untuk memiliki kemampuan akademik, lalu disuruh untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu itu kemasyarakat dengan tujuan Negara yang makmur dan sejahtera. Bukankah ini tugas yang sangat berat kawan, bahkan seorang presidenpun sampai saat ini taka da yang dapat menyempurnakan tugas ini? Menjadi seorang mahasiswa itu penuh tantangan. Dia bukanlah seorang anak kecil yang...

Sendiri

dalam mimpiku aku berjalan sendiri mengarungi samudera khayal tak bertepi petunjuk arah yang tak pasti ku lalui terbangun, mengunggu hingga mati ku lihat hallo mengarungi matahari menyambut sinarnya yang menerangi namun dia datang hanya sekali tak pernah ku lihat setiap hari hai kegelapan, enyahlah sang lilin datang dengan gagah mengusirmu, memekarkan sinarnya hingga merekah tinggallah seberkas harapan dan cinta kuharap kalian akan selalu ada disetiap kuterbangun dalam raga mengusir benci dalam jiwa rasanya, ku tak berguna hari ini kemalasan melanda tandaku sudah mati teman, sahabat, orang tua tak peduli karena aku selalu sendiri semangat 18!