Langsung ke konten utama

Calon Guru Bukan Pencontek

Dalam bukunya (ilmu pendidikan: cetakan ketiga 2013: 121) Dwi Siswoyo mengatakan “Bila kesalahan yang dilakukan oleh dokter berdampak pada kematian pasien (anak) dalam waktu yang singkat, sedang kesalahan yang dilakukan guru akan berakibat kematian anak dalam jangka waktu yang cukup lama”. Kematian dalam jangka waktu lama dimaksudkan sebagai matinya potensi-potensi kemanusiaanya oleh praktek pendidikan yang salah. Sudah 68 tahun lamanya Indonesia mendeklarasikan kemerdekaanya namun sampai saat ini masih ada 20 juta kelompok usia diatas 15 tahun yang buta aksara. Apa yang sebenarnya terjadi di Negeri ini, mengapa pendidikan kalah penting dengan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari?.

Inilah peran dan tanggungjawab selanjutnya yang harus dituntaskan oleh pemangku pendidikan dalam hal ini adalah guru. Guru adalah aktor perbaikan Bangsa yang bergerak dalam bidang pendidikan melalui sebuah keteladanan yang ditransferkan sehari-hari kepada peserta didik. Dengan peran guru, suatu Bangsa yang awalnya hancur lebur akibat perang dapat pulih dengan cepat dan menjadi salah satu Negara maju di Dunia, itulah yang terjadi di Jepang. Namun pada kenyataanya,  sejarah itu tidak  berlaku di Indonesia, pasalnya pendidikan di Indonesia sebagai ujung tombak sebuah pembangunan hanya menempati urutan kedua terendah di Dunia. Hal ini disebabkan salah satunya oleh faktor tenaga pendidik yang kurang professional.

Tenaga pendidik di Indonesia adalah mereka yang dilahirkan dan dicetak melalui beberapa jenjang pendidikan yang telah distandarkan oleh system pendidikan Nasional. Beberapa jenjang pendidikan tersebut dimulai dari SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Standar ini dimaksudkan untuk menjaring tenaga pendidik yang professional karena telah mengalami beberapa tahap perkembangan, baik dalam aspek psikologis maupun pengalaman. Sudah sepantasnya mahasiswa yang hidup dalam lingkungan pendidikan sadar diri akan statusnya sebagai calon tenaga pendidik dan peranya sebagai protecting serta peningkatan kapasitas taraf hidup masyarakat guna memperkaya kebudayaan Nasional.

Namun, sepertinya Mahasiswa itu sedang terbaring lemah karena terjangkit penyakit. Penyakit paling berbahaya yang melanda mereka adalah mencontek, sungguh ini adalah suatu perkara spele yang sering diremehkan oleh sebagian mahasiswa. Saat ini mencontek adalah hal yang umum dan wajar dikalangan mahasiswa, berbagai alasan dapat mereka sahkan demi mencapai sebuah nilai yang bagus. Ini merupakan sebuah kejahatan yang lebih berbahaya dari sekedar penggelapan uang Negara, karena hal ini menyangkut masa depan sebuah Negara. Mahasiswa dalam sejarah Indonesia tercatat sebagai agen of change yang berhasil menggulingkan kereziman masa kekuasaan Presiden Soeharto, hal ini merupakan sebuah point plus bagi mahasiswa di masa itu, mahasiswa memiliki sesuatu yang dapat mereka perjuangkan, namun jika kita melihat keadaan mahasiswa saat ini yang mencontek, apa yang dapat kita banggakan dari mereka? Mereka tak lebih hanya membuang-buang fasilitas Negara yang ada, kemampuan mereka samasekali tidak dapat diandalkan karena perilaku menconteknya yang memang membuat mereka tidak percaya diri.

Pada dasarnya, tujuan Perguruan Tinggi  dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”, tujuan ini memuat beberapa point penting yang seiring dengan perkembangan zaman telah hilang dari keseharian Mahasisiwa.

Tujuan pertama yakni menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota yang memiliki kemampuan akademik. Perguruan tinggi merupakan gudang ilmu yang dapat mahasiswa manfaatkan dalam mengeksplorasi kemampauan minat dan bakatnya untuk menyiapkan kemampuan akademiknya di masyarakat. Bagaimana mereka akan memiliki kemampuan akademik yang mumpuni jika yang mereka lakukan ketika hendak ujian adalah mencontek?. Ini merupakan cermianan dari calon pendidik muda Bangsa ini. Akan dibawa kemanakah Negeri ini jika para pendidiknya saja bermalas-malasan tidak mempunyai kemampauan akademik yang mumpuni? Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Tujuan kedua adalah mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Jika semua mahasiswa yang berada di perguruan tinggi yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi calon pendidik saja tidak memenuhi standar tujuan yang pertama (memiliki kemampuan akademik) bagaimana mereka akan melaksanakan tujuan perguruan tinggi yang kedua?. Tujuan ketiga adalah mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional. Sudah tak mungkin lagi jika Mahasiswa yang seperti tersebut diatas akan menjadikan Negeri ini sebagai Negeri yang makmur dan sejahtera. Karena sifat malas dan tidak percaya terhadap diri mereka sendiri yang tinggi dan tak mampu mereka imbangi dengan ilmu dan iman.

Inilah yang telah hilang dari keprofesionalisme-an guru di Indonesia, tujuan Bangsa bukan hanya sekedar pemikiran yang datang saat dibutuhkan, bukan hanya sekedar tulisan yang dibukukan dan disahkan melalui persaksian pemerintah yang bersangkutan, melainkan tujuan Bangsa adalah cita-cita tertinggi dari sebuah kehidupan yang dianut dan ditaati serta dilaksanakan dengan sepenuh jiwa oleh masyarakat yang mendiami suatu Bangsa tersebut. Karena pendidikan adalah kewajiban memenuhi kodratnya sebagai manusia hingga ia meninggal. Sebab Nabi Muhammad dalam sabdanya telah memberikan pengertian yang benar mengenai pendidikan, intinya pengetahuan yang benar itu tidak diukur dari sebarapa banyak materi yang diserap dan yang mampu dijelaskan, melainkan pengetahuan itu adalah ekspresi kesalehan. Maka dari itu sudah selayaknya seorang mahasiswa itu bukan seorang pencontek, karena guru tidak layak untuk disebut mantan pencontek.

semangat 18!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

oh MAPRES ku, kenapa kau cepat sekali menghilang?

Kuliah merupakan hal yang tabu untuk dibacarakan dikalangan orang-orang Desa pada umumnya. Keterbatasan ekonomi nampaknya merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh para orang tua ditengah maraknya beasiswa yang sedang "mendidih" di Negeri ini. Pada dasarnya "doktrin-doktrin" yang memuat isu mahalnya pendidikan bagi rakyat miskin memang tengah diambil alih oleh kelompok elit bersandarkan politik dan materialisme. Tak salah jika Kapitalisme yang diwanti-wanti hilang di abad ke-19 oleh Marx malah justru berkobar ditengah awal abad ke-20. Latarbelakang masalah ini tak mungkin ditutup-tutupi oleh pemerintah, segala kebijakan terkait telah diterapkan demi tujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa. Program beasiswa dalam dan luar Negeri banyak yang termuntahkan akibat tak maksimalnya sistem dalam menampung kesempatan. Sudah sepatutnya orang-orang yang diberi kesempatan dan terpilih untuk mengemban amanah berterimakasih atas semua program dan kebijakan yang telah Pemerint...

maha? siswa!

Aku tahu menjadi seorang Mahasiswa itu sangatlah sulit. Dia diberikan amanah dan harapan yang sangat besar dari sebuah Negara, padahal dia baru saja keluar dari zona mengenal diri. Lihat saja, apa engkau tahu tujuan dbetnuknya perguruan tinggi? Ya dalam PP No.60 Tahun 1999 pasal 1 tujuan itu berbunyi: “Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional”. Bukankah itu amanah yang sangat besar? Mahasiswa disiapkan untuk memiliki kemampuan akademik, lalu disuruh untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu itu kemasyarakat dengan tujuan Negara yang makmur dan sejahtera. Bukankah ini tugas yang sangat berat kawan, bahkan seorang presidenpun sampai saat ini taka da yang dapat menyempurnakan tugas ini? Menjadi seorang mahasiswa itu penuh tantangan. Dia bukanlah seorang anak kecil yang...

Sendiri

dalam mimpiku aku berjalan sendiri mengarungi samudera khayal tak bertepi petunjuk arah yang tak pasti ku lalui terbangun, mengunggu hingga mati ku lihat hallo mengarungi matahari menyambut sinarnya yang menerangi namun dia datang hanya sekali tak pernah ku lihat setiap hari hai kegelapan, enyahlah sang lilin datang dengan gagah mengusirmu, memekarkan sinarnya hingga merekah tinggallah seberkas harapan dan cinta kuharap kalian akan selalu ada disetiap kuterbangun dalam raga mengusir benci dalam jiwa rasanya, ku tak berguna hari ini kemalasan melanda tandaku sudah mati teman, sahabat, orang tua tak peduli karena aku selalu sendiri semangat 18!